This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, December 24, 2011

Takbir Menyejarah


Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alhamdulillah, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad..
Mungkin beginilah perasaan Rasulullah dan para shahabat saat kalah dalam perang uhud. Di saat kemenganan sudah berada di depan mata, ketidaktaatan terhadap perintah Rasul menjadikan kemengangan itu sirna dalam sekejap, bahkan Rasulpun terdesak hingga hampir saja terbunuh jika tidak dilindungi oleh thalhah bin ubaidillah. Penyebab utama kekalahan itu salah satunya karena orang-orang munafik yang menggerogoti tubuh umat muslim. Ya..mungkin seperti inilah rasanya..

Malam itu, sekitar pukul 3 malam, saat perhitungan hampir selesai dan keunggulan lawan sudah tidak mampu dikejar lagi, ikhwan-ikhwan yang sudah mulai lelah dikumpulkan dan dibariskan di gelanggang mahasiswa. Kami semua berbaris, berbaris dibawah langit yang cukup cerah malam itu dan suasana yang agak dingin. Setelah itu sedikit taujih diberikan untuk mnyemangati ikhwan malam itu, tapi tetap saja sulit, mata kami terus berkaca kaca, tak mampu menahan air mata. “tidak perlu bersedih hati, ini semua adalah ketetapan Allah..kita semua telah menyepurnakan ikhtiar dan doa, tapi apalah daya, Allah telah menetapkan ini semua jauh sebelum alam semesta ini diciptakan, dan inilah hasilnya. Dengan ini, kita semua harus tetap berdakwah, dimanapun, kapanpun, meskipun tanpa lembaga karena tanpa lembaga pun kita semua dapat tetap berdakwah”, seperti itulah kira-kira isi dari taujih malam itu, kemudian dilanjutkan dengan doa rabithah, saat itu, kami semua tak mampu lagi menahan tangis, isak tangis terdengar jelas dari samping kiri dan kanan ku saat itu,.ya..mungkin seperti inilah perasaan Rasulullah dan para shahabat saat kalah dalam perang uhud (tapi yang pasti, pukulan yang dirasakan umat muslim dalam kekalahan uhud mesti lebih menyakitkan dari pada kekalahan yang kami alami).

Setelah doa dipanjatkan, pemimpin barisan mengatakan, “setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, kita semua keluar dari gelanggang ini dengan takbir –karena saat itu kami menang-, saat ini, apakah kalian semua berani jika kita bertakbir ?!”..sambil berbisik saya dan beberapa orang dibarisan berkata “berani !”. maka, ditengah sunyi dan senyapnya malam itu, di waktu-waktu terakhir perhitungan, beliau berkata, “takbir !” dan disambut dengan takbir –mungkin ini takbir yang paling kencang yang pernah saya pekikkan- “ALLAHU AKBAR”..”takbir !” ..ALLAHU AKBAR..”takbir !” ALLAHU AKBAR !!

Takbir yang menyejarah menggelegar digelanggang mahasiswa malam itu..era baru dunia dakwah kampus UGM pun dimulai..

Banyak hikmah yang bisa diambil, ini menandakan bahwa kita harus terus berbenah..yang jelas dengan tegas saya katakan, “SAMPAI KAPAN PUN, DIMANA PUN, DENGAN ATAU TANPA LEMBAGA, KAMI SEMUA AKAN TERUS BERDAKWAH, HINGGA TERWUJUDNYA ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN !! “

Suatu saat akan terbukti, siapakah yang paling professional, siapakah yang kontributif, dan siapakah yang paling baik amalnya dihadapan Allah..mari kita buktikan kawan, siapakah yang paling baik amalnya,.
Kami semua akan terus beramal, terus berkontribusi untuk Indonesia dan untuk Agama Allah.,yang jelas dengan tegas saya katakan, “SAMPAI KAPAN PUN, DIMANA PUN, DENGAN ATAU TANPA LEMBAGA, KAMI AKAN TERUS BERKONTRIBUSI DEMI BANGSA DAN TANAH AIR INDONESIA, DEMI AGAMA ALLAH YANG MULIA”

Tetap berjuang kawan..perkuat keimanan, pererat ikatan ukhuwwah..tetap istiqamah hingga berjumpa dengan Rabb yang agung Allah ta'ala..mari kita sambut dengan senyuman dan semangat membara, "era baru dakwah kampus UGM"

Tuesday, December 13, 2011

Mana Ikhwan Untukku ?

Tulisan ini banyak ibrahnya, mangga di ambil manfaatnya..ini bukan tulisan saya, saya hanya copast..sumber aslinya saya lampirkan dibawah dari tulisan ini..
bismillah
...............................................

BLEDERR!! Subhanallah, kaget bukan buatan setelah kubaca pesan singkat di ponsel. Allah, ada yang hendak melamarkuuu! Ini sebuah prestasi, eh (mikir) ya prestasi. Aku baca ulang; hmm, apa ada yang keliru dengan cara ini?
Mirror mirror on the wall, pantaskah aku mendampinginya?” sedikit gila, aku ngobrol dengan kaca meja rias.
Kenapa mesti ngaca, orang seperti dia tentu melamar perempuan bukan karena fisik, kaca menjawab. Tapi sepertinya itu suara hatiku.

Umar. Nama sahabat Nabi, juga nama sahabatku. Mungkin sama kualitas jika hidup semasa, analisaku saja. Umar—yang kawanku—sejak SMA selalu berprestasi, pikirannya tajam, sikapnya tegas, saleh tentu saja. Dan, posturnya itu… wajahnya itu… astaghfirullaha’azhim. Aku pernah mengaguminya sebelum hijrah. Lalu aku tobat, karena kekagumanku bertepuk sebelah tangan.
Diterima di kampus yang sama, aku dan Umar berbeda fakultas. Jika bertemu tidak saling sapa, tentu saja, kami tidak saling pandang. Tapi aku hapal bayangannya, karena tiga tahun di SMA kami selalu satu kelas.

Tidak ada yang kebetulan. Hari ini, di hapeku, pada sebuah pesan yang kupastikan tak salah kirim, seorang kawan yang lain mengabarkan keinginan Umar melamarku.
Wiwi nama kawanku itu, agak aneh memang. Menggambarkan orangtua yang tidak kreatif, halah! Ia sudah menikah dua tahun lalu, curi start padahal kuliahnya belum lagi kelar. Sekarang kami sarjana, tapi menganggur. Tidak apa, kan ada suami yang menanggung biaya hidup. Prinsip yang salah. Tolong, kembalilah ke topik!
Wiwi, aku, dan Umar satu organisasi, sebuah lembaga dakwah skup terbesar di kampus. Tidak ada yang istimewa dengan persahabatanku dan Wiwi, kecuali bahwa dia menikah dengan kakak sepupuku, dan kami pernah bertengkar gara-gara pada sepupuku itu, kuceritakan kisah Wiwi yang dulu pernah sms-an ganjen dengan ikhwan senior.
Kami saling diam, lalu berbaikan lagi saat lebaran. Bertengkarnya pada dua hari terakhir Ramadhan.

Ke nomor ponselku, Wiwi yang tidak istimewa mengirimkan pesan ajakan ta’aruf dari Umar. Apa lagi yang hendak dikenalkan? Ayolah Umar, bukankah kita sudah saling kenal. Kadang-kadang agresif itu tidak baik, nuraniku angkat bicara.
Hatiku berbunga-bunga. Tombol gulir kuarahkan ke bawah, menuju huruf ‘e’, memanggil seseorang yang kuberi nama ‘em-er’ pada ponsel.
“Assalamu’alaykum. Apa kabar, Mbak? Djkalhf fieoifepi dkajdkajs kugruipgoripogsw…” sebagai orang Indonesia, etika berbasa-basi hukumnya wajib.
… terus berbicara sambil melihat jam, pulsa berlari kejam karena beda operator …
Mbak Em-er adalah penasihat spiritualku, ya kalau berlebihan sebut saja guru ngaji. Teman berbagi masalah yang bertemu muka satu pekan sekali. Kadang-kadang libur juga jika ada acara besar, dan pertemuan dialihkan ke acara besar itu.
“O begitu… umur Ika sekarang berapa?”
“Dua satu, Mbak,” jawabku mantap. Masih muda kan, tapi sudah laku, gila!
“Sayang loh, masih muda banget. Energinya masih bisa disalurkan buat umat.”
“Memangnya kalau sudah nikah nggak bisa ngurusin umat lagi ya, Mbak?” tanyaku lugu.
“Bisa. Tapi harus berbagi dengan suami, anak, rumah… ya kan?”
Kok nanya balik, mana aku tahu. “Jadi gimana, Mbak?”
“Tunda dululah. Lagipula kita punya jalur kok, Ika tunggu saja proposal nikah dari ikhwan lewat Mbak. Insya Allah lebih bisa dipercaya.”
Aku kaget lagi. Benar-benar simalakama. Lantas aku pusing, antara Umar dan Mbak Em-er. Aku cinta keduanya. Apa? Keliru, aku cinta Mbak Em-er. Umar bukan siapa-siapaku, tidak lebih utama dari penasihat spiritual utusan struktur wilayah.
Wiwi ikut kaget mendapat balasan pesan dariku. Lewat telepon, ia khutbah tanpa naskah. Tapi Wiwi hanya tokoh tidak penting, ia marah karena tidak mampu menyenangkan hati Umar. Dan asal tahu saja, Wiwi nikah lewat jalur swasta. Kakak sepupuku, yang shalihnya biasa-biasa saja, langsung datang menemui orangtua Wiwi, tidak lewat ustadz.
***
Sepekan kemudian.
Dasar mimpi, tiga hari berturut-turut Umar hadir di sana. Tapi syukurlah, ketaatanku pada Mbak Em-er mampu meredam keinginan yang menurutku tak pantas itu. Prinsipku, yang baik untuk yang baik. Itu kata Quran, jadi santai saja.

Empat bulan berikutnya.
Tapi, ‘santai’ itu cuma gampang diketik. Kini, setelah dengan pongah kutolak Umar, hatiku hancur lebur jadi puing paling puing. Undangan pernikahan Umar tergeletak manis di meja kamarku. Wiwi dengan sangat girang mengantarkannya, bahkan sampai ke kamar. Dia tentu tahu, malam ini bantal gulingku akan banjir.
Betul kata Quran, yang baik untuk yang baik. Umar menikah dengan seorang akhwat yang kelihatan biasa-biasa saja, tapi aku tahu hapalannya banyak, rajin tahajjud dan puasa sunnah. Jangan tanya dari mana aku tahu, akhwat itu binaanku. Sasi, akhwat yang dari segi fisik bertipe standar, tapi membuatku gentar dan kapok untuk mengevaluasi amalan binaan di akhir kajian. Lagi-lagi Umar melamar anak orang tanpa lewat ustadz atau siapalah yang cukup punya label untuk disegani. Mungkin karena Wiwi dianggap tidak kapabel jadi comblang, Umar datang sendirian menemui orangtua Sasi. Karena orangtua Sasi sudah setuju, binaanku yang dahsyat itu kemudian meneleponku bukan untuk minta restu, tapi sekadar mengabarkan rencana pernikahannya. Oh dunia, kau seperti ibu tiri!
Melihat kenekatan cara Umar, kupikir ia tidak dalam lingkaran pengajian lagi—aku cukup berharap, agar hati ini sedikit terhibur—tapi melihat tamu yang hadir di walimahan sederhana itu, makin retak jantungku. Rupa dan bau mereka familiar semua.

Hari ini, pada ulang tahun ke enam hancurnya hatiku.
Penasihat spiritualku sudah lima kali ganti. Sekarang kajian pekanan diisi oleh Mbak Em-er Lima, tapi aku masih sendiri. Setia menanti janji Em-er memberi ikhwan yang lebih pantas untukku. Kabarnya, biodata yang kuukir-ukir dulu sudah menguning di laci besi milik Kaderisasi.

Kulihat kerut dahi Bunda makin bertambah, apalagi jika keluarga datang silaturahim. Orang-orang tak kreatif itu seperti tak punya bahan selain membahas jodoh.
Bunda seperti orang dapat wangsit, selalu optimis menyiapkan segala hal untuk rumah tanggaku kelak. Beberapa alat dapur yang masih baru beliau tandai dengan inisialku, sebagai jatah karena tak mampu memberi warisan sepetak sawah, tanah, atau rumah seperti di sinetron-sinetron.

Melihat semua itu, baru kusadari; aku kualat.
Enam tahun lalu aku meminta izin pada orang yang bahkan tak ingat berapa usiaku, dan sekarang yang bersangkutan tak bisa dituntut pertanggungjawabannya. Ke mana materi kajian? Aku bahkan lupa untuk shalat istikharah, karena ketaatanku salah tempat. Kesadaran yang mutlak telat, bahwa posisi syariat berada di atas aturan atau AD/ART organisasi mana pun.

Sekarang Umar sudah beranak tiga, sedang aku hanya berharap segera melepas predikat single sebelum berkepala tiga. Tak berani terus terang pada Bunda soal enam tahun lalu, khawatir keijabahan doanya sebagai ibu pudar sebab kecewa.
Menurut teori, seharusnya aku berusaha. Maka ikhtiarku kali ini adalah mendongkrak doa Bunda untukku yang kuyakin selalu ada dalam shalat malamnya. Usia sudah menyurutkan semangatku untuk aktif, termasuk menjemput jodoh—entah dengan cara apa. Terbukti, sekarang aku lebih melow, tidak lucu lagi.
Contohnya pada detik ini, sekompi orang dari pihak Ayah datang ke rumah, ujug-ujug menawarkan beberapa laki-laki kampung mereka untuk dijadikan menantu Ayah-Bunda. Ada yang juragan kambing, tauke sawit, PNS,….
“Tapi ya… mereka nggak jenggotan. Celananya biasa aja, nggak cingkrang. Biarlah, daripada yang jaga masjid itu, jidatnya item tapi makan aja nunggu dikasih warga.”
“Bla.. bla.. bla..”
“Gimana, Ka?” tanya Bunda.
Serrr… Bunda tidak serta merta memberi keputusan, beliau lebih dulu bertanya padaku. Jangankan menjawab, hatiku malah berdarah-darah mengingat kedurhakaanku melangkahi otoritasnya sebagai orangtua.

Wednesday, November 9, 2011

Kehilangan Qudwah


Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillah..Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad
………………………………………………
Saya bingung harus mulai dari mana ketika membicarakan tentang ini. Setelah lebih kurang 3 tahun berkecimpung dalam dakwah kampus, baru kali ini merasakan ini…merasakan tidak ada satu orangpun yang mampu dijadikan Qudwah. Sebagai angkatan yang paling tua, saya sadar bahwa seharusnya saya lah yang berusaha untuk mengkondisikan diri dengan baik hingga dapat dijadikan contoh bagi yang lainnya. Hanya saja, sampai saat ini saya merasa belum cukup pantas untuk dijadikan contoh bagi yang lainnya. Untuk itu, tulisan ini bermaksud untuk mengingatkan teman-teman seperjuangan begitu pula diri saya.

Kondisi saat ini (bagi saya) benar-benar memperihatinkan. Kader dakwah saat ini telah terbawa oleh arus besar kemajuan teknologi yang mempermudah komunikasi. Seharusnya perkembangan teknologi dan alat komunikasi dapat membuat kemajuan yang significant terhadap gerakan dakwh karena bisa mempermudah komunikasi, tapi akhirnya…masalah komunikasi justru menjadi problem klasik yang terus terjadi, berulang dan berulang dari tahun ke tahun..lalu, apa manfaat dari kemajuan teknologi dan alat komunikasi terhadap kerja-kerja dakwah hingga saat ini ??

Kader dakwah saat ini tidak mampu membatasi dirinya terhadap aktivitas-aktivitas mubadzir yang menghabiskan waktunya sia-sia. Komunikasi berlebihan lewat FB yang tidak bermuatan, interaksi bebas yang dapat mengurangi keberkahan (mungkin) terus saja dilakukan. Dalihnya sangat bagus, “refreshing” sejenak…ya..boleh lah refreshing sejenak..tapi kenapa aktivitas dakwahnya setelah itu sama sekali tidak ada peningkatan ??? di FB, komunikasi terlihat lancar, berinteraksi dengan sangat cair, begitu bebas..tapi, ketika di sms untuk membahas agenda dakwah, tidak dibalas..sms syura yang meminta konfirmasi “bisa atau tidak” saja tidak dibalas..dimana efek “refreshing” yang seharusnya menyegarkan aktivitas kita ?? atau memang “refreshing” di FB atau apapun telah menjadi aktivitas utama kita saat ini ?? setiap orang pasti akan berupaya untuk senantias husnudzan terhadap saudaranya,,sayangnya saudaranya itu sendiri yang menutup pintu-pintu yang dapat memberikan alasan kuat untuk senantiasa berhusnudzan dan membuka dengan lebar celah-celah dzan di dalam hati yang dapat menimbulkan suudzan.

Kita semua sangat paham, bahwa kita memiliki bagian kehidupan lain selain dakwah yang perlu diperhatikan. Oleh sebab itu terkadang sesi tanya-tanya kabar sering diselipkan ke dalam syura untuk mengetahui keadaan saudara kita, apakah sedang ada masalah..atau sangat memerlukan bantuan..atau sedang senang dan ingin dibagikan kepada teman yang lain..hal itu dilakukan untuk memfasilitasi kita semua agar tidak merasa dikuras tenaganya untuk aktivitas dakwah. Kita semua juga sangat paham, bahwa terkadang masalah-masalah kita sangat tidak pantas untuk disampaikan di forum, karena merupakan hal yang pribadi..melihat kondisi itu, dicoba untuk menggunakan sms untuk memfasilitasi..agar kondisi kita hanya diketahui oleh orang yang benar-benar kita percayai dan bantuan pun dapat kita terima…tapi…ternyata sekarang hal ini tidak begitu efektif. Para aktivis lebih tertarik menyampaikan masalahnya ke FB untuk dinikmati hal layak ramai, hingga terkadang saya melihat ada beberapa hal yang sangat personal yang tidak perlu disampaikan ke halayak ramai justru disampaikan..sebenarnya apa yang kita inginkan ?? comment dan like ?? ketika ditanya di forum tidak di jawab, di sms tidak dibalas (dengan alasan menjaga komunikasi) tapi di FB..semua dikeluarkan, bahkan tak jarang sesuatu yang tergolong aib pun disampaikan…comment dan like pun berdatangan, komunikasi bebas tak beralasan pun terjadi..lalu, ada dimana komitmen menjaga komunikasi ??
Kenapa kita berusaha menghindari sms “berbau” dakwah dan mengutamakan comment2 bebas tak bermuatan (bahkan cenderung negative dampaknya) ??

Dulu..aktivis dakwah adalah orang-orang yang terlihat sangat kokoh..teguh pendiriannya terhadap syari’at..mereka terlihat demikian karena mereka mampu menahan diri dari mengumbar aib mereka..karena mereka mampu berusah untuk menjaga interaksi baik lewat sms apalagi di dunia maya yang diketahui oleh orang banyak..semua itu mereka lakukan karena mereka sadar bahwa mereka telah terlabeli sebagai kader dakwah..mereka harus kokoh..mereka harus berkomitmen terhadap syari’ah..kapanpun, dimanapun…
Mereka tidak pernah takut dikatakan kolot..mereka tidak pernah bergoyang dari pendiriannya hingga mereka dikenal dengan orang-orang yang ideologis..mereka tetap berupaya untuk memperbaiki diri agar menjadi mukmin yang shalih/shalihah tanpa membatasi diri mereka terhadap interaksi sosial hingga mereka tidak cenderung dikucilkan..bahkan dengan paduan kedua itu, mereka benar-benar mampu menjadi tokoh dan panutan dimasanya tidak hanya bagi kader dakwah..tapi bagi seluruh mahasiswa..begitulah contoh kecil dari rahmatan lil ‘alamin…

Lalu…masihkah kita tetap ingin menjadi seperti ini ?? tertelan dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, termakan oleh berbagai kosa kata baru…lebay..alay..ababil..ga gaul..ga keren..ikut-ikutan mencap perbuatan-perbuatan buruk dengan kata “gokil”..terjerumus menggunakan kata-kata “ga gaul” terhadap saudaranya yang menyediakan sedikit waktunya untuk berdiam di masjid menghafalkan al Qur’an…lalu..siapa yang akan dicontoh akhirnya ??? yang baik sekarang terlihat buruk..yang buruk terlihat baik…begitulah brand yang terbangun saat ini…sadarkah kalian ? kalian sedang dilihat dan diperhatikan..apapun yang kalian lakukan sering kali dijadikan pembenaran bagi yang lain untuk ikut melakukannya..so..berikanlah contoh yang baik J
haah..rindu Rasulullah.. T,T

Wallahu a’lam

Tuesday, November 1, 2011

Mulai suka membaca


 Bismillaahirrahmaanirrahiim….

Membaca bukan merupakan hal yang mudah bagi saya. Saya sangat suka membaca, tetapi bukan bacaan-bacaan yang berat melainkan bacaan yang ringan seperti komik. Banyak sekali tumpukan komik di kamar yang saya koleksi sejak tahun pertama kuliah. Hingga suatu saat, sebuah pertanyaan menohok menimpaku. Seorang ustadz berkata dalam sebuah forum kajian yang saya hadiri, “kalian sebagai seorang muslim, sudah sejauh mana menjadikan Rasulullah sebagai idola ? setiap kali ditanya, siapa idola kalian ? kalian akan menjawab, Rasulullah. Tapi, apakah kalian sudah membaca kisahnya ? bahkan buku sirah pun tidak ada dalam rak buku di kamar kalian, saya yakin itu !”.

Sejak saat itu pikiranku mulai berubah, mulai coba ku lirik buku-buku sirah di toko buku, tapi sayang sekali, bukunya tergolong buku yang harganya cukup mahal. Akhirnya, niat untuk membeli buku sirah ku tunda dulu sejenak, menunggu hingga memiliki cukup banya uang untuk membeli sebuah buku sirah. Waktu terus berlalu hingga cukup lama sejak kajian tersebut, hingga saya lupa akan niat untuk membeli sebuah buku sirah.
…………………………………………………………………………
Saat itu saya sudah benar-benar hampir melupakan niat untuk membeli buku sirah, hingga ketika saya diberikan tugas untuk membaca oleh seorang kakak kelas di fakultas. Ketika itu beliau meminta kepada saya untuk membaca 3 buah buku, salah satu diantaranya adalah sirah nabawiyah. Dengan sedikit uang yang ku miliki, ku putuskan untuk membeli sebuah buku, bukan buku sirah dengan alasan harganya yang mahal.

Ku coba untuk membaca buku yang sudah ditugaskan untuk dibaca itu, yang ku dapatkan adalah hal-hal yang luar biasa, banyak sekali kisah-kisah heroic nan apik yang diceritakan di dalam buku tersebut. Buku itu banyak sekali mengutip kisah-kisah para sahabat, kisah perjalanan hidup Rasulullah dan detik-detik heroic saat peperangan di zaman Rasulullah. Buku itu benar-benar menggoda hati ini untuk membaca kisahnya langsung dari sumbernya, sirah nabawiyah.
Akhirnya dengan duit seadanya, ku putuskan untuk membeli sebuah buku sirah. Betapa senangnya hati ini saat membelinya, tak sabar ingin cepat pulang dan sampai di kos untuk membaca buku tersebut. Setiba di kos, ku coba untuk mulai membaca buku sirah yang baru saja ku beli.

Dengan penuh semangat ku buka lembaran demi lembaran dari buku sirah itu. Ku baca dengan penuh gairah satu persatu kata yang ada. Tapi, beberapa lembar kemudian, semangatku menurun, aku mulai mengantuk, dan harus ku akui bahwa buku ini sangat membosankan. Bagaimana tidak ? saya harus berhadapan dengan berbagai silsilah keluarga bangsa arab dengan nama-nama khas arab yang mirip-mirip, itu benar-benar membosankan. Lalu aku berpikir, dimana kisah-kisah menariknya ???

Ditengah kebosanan saat membacanya, aku teringat kembali perkataan seorang ustadz yang berkata tentang pentingnya membaca dan mengetahui sirah Rasulullah, akhirnya aku berupaya untuk bisa istiqamah dalam membacanya. Dengan kondisi sebosan apapun, ku coba untuk tetap mengamati cerita dalam buku itu, halaman demi halaman. Hingga akhirnya bab tentang silsilah keluarga arab pun berhasil ku lewati.

Memasuki bab berikutnya kisahnya semakin menarik. Rasulullah dan shahabatnya benar-benar pahlawan dunia. Kisahnya apik dan sangat menggugah. Tidak sia-sia aku berupaya untuk istiqamah saat membaca bab-bab awal. Buku yang tadinya ku rasa cukup membosankan ini kemudian menjadi buku yang terus selalu ingin ku baca. Setiap kali ku hentikan membacanya untuk melakukan aktifitas yang lain, rasa untuk membuka lembaran-lembarannya kembali untuk melihat kelanjutan kisahnya semakin kuat. Buku yang addictive.

buku itulah yang membuat saya menjadi seorang yang suka membaca, buku apik yang mengisahkan kehidupan seorang manusia yang paling sempurna akhlaknya, buku yang sangat patut dibaca oleh setiap muslim, sirah nabawiyah

Monday, October 31, 2011

Luruskan Niat...


Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Hah…hujan rintik-rintik diluar sana, tak ada apapun yang bisa kulakukan. Ingin nonton TV, tapi saying waktuku jika hanya untuk menonton TV..Ingin tidur, tapi waktunya masih awal, jam 12 pun belum sampai…
Tiba-tiba terbesit didalam pikiranku, “untuk apa aku memilih profesi ini ?” Perawat…kenapa ? hmm…suasana hujan semakin menambah melankolis…
Melihat jauh kedepan, sepertinya masa yang akan datang tidak akan begitu mudah. Kenikmatan seperti saat kuliah mungkin akan semakin sulit dirasakan, kesibukannya mungkin akan semakin padat…bagaimana jadinya jika saya masih belum juga menghafal Qur’an ini saat masih kuliah ? apakah nanti saya masih memiliki waktu luang ?

Libur ?? sepertinya sebuah kata yang perlu dihapuskan dari kosakata kehidupan dimasa depan saat bekerja, kecuali jika memang ingin mengambil jatah cuti..bagaimana dengan keluargaku ? bagaimana dengan saudaraku ? bagaimana dengan dakwahku ? apakah masih ada waktu ??
Menelusuri berbagai kisah para tetuah yang sudah cukup berpengalaman dalam hal ini, melihat semuanya dari segala perspektif..ternyata itu semua tidak mudah..terlebih dengan adanya orang-orang yang mundur perlahan atau mengurangi aktivitas dakwahnya hanya karena kesibukan…saya tidak ingin seperti itu..
Hmm…kenapa bisa memilih profesi ini ??

Mencoba menilik kembali, melihat dengan teliti kisah-kisah mereka..dan ku dapati orang-orang hebat di sana…kenapa mereka bisa sebegitu kokohnya ??? terus bersabar..bergerak, meskipun kadang mereka benar-benar tidak memperdulikan diri mereka..hebat..semoga mereka bisa benar-benar istiqamah hingga berjumpa denganNya..

Jalan dakwah memang tidak mudah..jika mencari kesenangan dunia, maka bukan ini tempatnya..karena kami tidak memperhatikan itu,.ingin mencari popularitas ?? maka buanglah niat itu, karena disini kita bekerja dengan team..semua kesuksesan adalah kerja keras team..disini hanya aka nada cobaan dan ujian yang mendewasakan..

Memutuskan menjadi seorang muslim yang berprofesi sebagai perawat adalah keputusan yang luar biasa..tidak semua mampu melakukannya..mereka yang mampu melakukannya hanya orang-orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi..peduli terhadap orang lain..tidak suka menyombongkan diri..sangat pandai berkomunikasi..pandai menutupi masalah pribadinya dihadapan orang lain…mengorbankan hidupnya untuk mengabdi pada masyarakat..
Jika tidak memiliki itu semua..maka hampir bisa dipastikan orang-orang tersebut akan terhepas..so, teruslah berjuang..luruskan niat semua pengorbanan yang kita lakukan hanya untuk Allah..Semoga Akhirat dapat meresap dihati, dan dunia dapat dipegang dalam genggaman tangan..

Ibsin FK UGM, 31 okt 23.43