Diambil dari kitab Syarah Hadits Arba'in, Al Wafi
Tuesday, October 22, 2013
HADITS 1 : SEGALA PERBUATAN DITENTUKAN OLEH NIATNYA
Amirul Mu’minin Abu Hafs Umar Ibn
Khathab ra. Berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung pada niatnya
dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa
berhijrah karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya.
Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin
ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (Mutafaqqun ‘Alaih)
Ahammiyatul Hadits (Urgensi Hadits)
Hadits ini sangat penting, karena
menjadi orientasi seluruh hokum dalam islam. Hal ini bisa dilihat dari pendapat
para ulama. Abu Dawud berkata, hadits ini setengah dari ajaran Islam. Karena
agama bertumpu pada dua hal : sisi lahiriyah (amal perbuatan) dan sisi
batiniyah (niat). Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata, hadits ini mencakup
sepertiga ilmu, karena perbuatan manusia terkait pada 3 hal : hati, lisan dan
anggota badan, sedangkan niat berada di dalam hati yang merupakan salah satu dari
tiga hal tersebut.
Mengingat urgensinya, maka banyak
ulama mengawali berbagai buku dan karangannya dengan hadits ini. Imam bukhari
menempatkan hadits ini di awal kitab shahihnya. Imam An Nawawi menempatkan
hadits ini pada urutan pertama dalam tiga kitabnya : Riyadhus Shalihin, Al
Adzkar, dan Al Arba’in An Nawawiyah. Ini dimaksudkan agar pembaca menyadari
pentingnya niat,sehingga akan meluruskan niatnya hanya karena Allah, baik
menuntut ilmu atau melakukan perbuatan baik yang lain.
Urgensi hadits ini diperkuat oleh
riwayat bukhari yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkhutbah dengan
hadits ini, begitu juga Umar ra. Abu ‘Ubaid berkata, “tidak ada hadits yang
lebih luas dan padat maknanya dari hadits ini”
Sababul Wurud (Latar Belakang
Hadits)
Imam At Thabrani meriwayatkan,
dalam Al Mu’jam Al Kabir, dengan sanad yang dipercaya, bahwa Ibnu Mas’ud
berkata, “Diantara kami ada seseorang lelaki yang melamar seorang wanita,
bernama Ummu Qais. Namun, wanita itu menolak dan ia berhijrah ke Madinah. Maka
lelaki tersebut ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan
Muhajir Ummu Qais.
Sa’id Ibnu Manshur meriwayatkan
dalam kitab sunannya, dengan sanad sebagaimana syarat Bukhari dan Muslim, bahwa
Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa yang hijrah untuk mendapatkan kepentingan duniawi
maka pahala yang didapat sebagaimana yang didapat oleh lelaki yang hijrah untuk
menikahi wanita yang bernama Ummu Qais, hingga ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.
Fiqhul Hadits (Kandungan Hadits)
1. Syarat Niat
Para ulama sepakat bahwa perbuatan seorang mukmin
tidak akan diterima dan tidak akan mendapatkan pahala kecuali jika tidak
diiringi dengan niat. Dalam ibadah inti, seperti : Shalat, Haji, Puasa, niat
merupakan rukun. Karenanya ibadah-ibadah tersebut tidak sah kecuali jika diiringi
niat. Adapun dalam hal ibadah yang merupakan sarana dari ibadah inti, seperti
wudhu dan mandi, ada perbendaan pendapat diantara para ulama. Madzhab Hanafi
menyebutkan bahwa niat adalah penyempurna untuk mendapatkan pahala. Sedangkan
Madzhab Syafi’i dan ulama lainnya menyebutkan bahwa niat merupakan syarat
sahnya sebuah ibadah. Oleh karena itu, ibadah-ibadah tersebut tidak sah kecuali
jika diiringi dengan niat
2. Waktu dan Tempat Niat
Waktu niat adalah diawal ibadah. Seperti :
Takbiratul Ihram untuk shalat dan Ihram untuk haji, sedangkan puasa
diperbolehkan sebelumnya karena untuk mengetahui waktu subuh secara tepat cukup
sulit.
Niat bertempat di hati, jadi tidak disyaratkan untuk
diucapkan. Namun demikian, boleh saja diucapkan untuk membantu konsentrasi
hati.
Disyaratkan menentukan secara tepat ibadah yang
hendak dilakukan, jadi tidak cukup hanya dengan berniat untuk melakukan ibadah
shalat ‘secara umum’, namun harus ditentukan shalat dzuhur atau ashar atau yang
lainnya.
3. Keharusan Hijrah
Hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam adalah
wajib bagi seorang muslim jika ia tidak bisa melakukan ajaran islam secara
terang-terangan. Hukum ini berlaku secara umum dan tidak dibatasi oleh waktu
tertentu. Sedangkan hadits yang mengatakan tidak ada hijrah setelah fathu
makkah, maksudnya adalah tidak ada hijrah dari makkah setelah peristiwa fathu
makkah karena makkah sudah menjadi Negeri islam.
Kata hijrah juga dipergunakan untuk hal-hal yang
dilarang Allah ta’ala. Orang yang menjauhi hal-hal yang dilarang Allah, disebut
dengan muhajir.
4. Orang yang berniat melakukan kebaikan namun karena
satu dan lain hal seperti sakit parah ataupun meninggal dunia, sehingga ia
tidak bisa melaksanakannya maka ia tetap akan mendapatkan pahala. Al Baidhawi
mengatakan, “Amal ibadah tidak akan sah kecuali jika diiringi dengan niat.
Karena niat tanpa amal diberi pahala, sementara amal tanpa niat adalah sia-sia.
Perumpamaan niat bagi amal adalah ruh bagi jasad. Jasad tidak akan berfungsi
jika tanpa ruh, dan ruh tidak akan tampak jika terpisah dari jasad”.
5. Hadits ini mendorong kita untuk ikhlas dalamsegala
perbuatan dan ibadah agar mendapatkan pahala di akhirat serta kemudahan dan
kebahagiaan di dunia.
6. Semua perbuatan baik dan bermanfaat, jika diiringi
dengan niat yang ikhlas hanya mencari keridhaan Allah, maka perbuatan tersebut
adalah ibadah
Diambil dari kitab Syarah Hadits Arba'in, Al Wafi
Diambil dari kitab Syarah Hadits Arba'in, Al Wafi
Friday, September 7, 2012
Manusia Yang Dapat Berbicara Saat Bayi
Imam Bukhari meriwayatkan, dari
Muslim Ibn Ibrahim, dari Jarir Ibn Hazim, dari Muhammad Ibn Sirin, dari Abu
Hurairah, dari Nabi Saw, Beliau bersabda, “Mereka yang pernah berbicara dalam
buaian ada tiga orang, (yang pertama) Isa Ibn Maryam.
(yang kedua) Dahulu ada seorang
pria dari bani Israil yang bernama Juraij. Ketika pada suatu hari ia sedang
melaksanakan shalat, tiba-tiba ada suara ibunya memanggil namanya, lalu ia
berbisik di dalam hatinya : ‘apakah aku harus menjawabnya ataukah aku harus teruskan
shalatku ?’ lalu ia memutuskan untuk melanjutkan shalatnya. Dikarenakan panggilannya
yang tidak juga dijawab, maka ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, janganlah engkau
matikan dia sebelum dia melihat wajah-wajah wanita sundal.’ Kemudian pada suatu
hari ketika Juraij berada di rumah ibadah, ia didatangi seorang wanita yang
menawarkan tubuhnya, namun Juraij menolak tawaran tersebut. Lalu wanita itu
pergi untuk menemui seorang penggembala, maka mereka pun melakukan hubungan
intim, hingga akhirnya wanita itu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika
wanita itu ditanya, ‘siapakah bapak dari bayi ini ?’ Wanita itu menjawab, ‘ini
adalah anak Juraij.’ Lalu masyarakat di sana pun mendatangi tempat ibadah
Juraij dan meghancurkannya, lalu mereka menyeret Juraij dan mengecam
perbuatannya. Setelah itu Juraij mengambil wudhu dan melakukan shalat. Lalu ia
bersama masyarakat di sana mendatangi anak tersebut dan bertanya, ‘siapa
bapakmu wahai anakku ?’ Bayi itu menjawab, ‘seorang penggembala yang bernama si
fulan.’ Maka masyarakat itu pun merasa bersalah dengan tudingan mereka. Kemudian
mereka menawarkan, ‘apakah kamu mau jika tempat ibadahmu kami bangun kembali
dengan lapisan emas ?’ Juraij menjawab, ‘tidak perlu, cukup dengan batu dari
tanah liat saja.’
(sedangkan yang ketiga) Dahulu ada
seorang perempuan bani Israil yang sedang menyusui anaknya. Lalu ketika
perempuan itu melihat ada seorang laki-laki yang mengendarai hewan tunggangan
dan mengenakan pakaian yang memperlihatkan kewibawaannya. Lalu wanita itu
berdoa, ‘Ya Allah, jadikan anakku ini seperti pria itu.’ Namun tiba-tiba anak
yang digendongnya itu melepaskan payudara ibunya (seakan menolak doa tersebut).
Kemudian perempuan itu menghadap kearah laki-laki yang berwibawa itu dan
berdoa, ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti pria itu.’ Ternyata
setelah berdoa demikian, anak itu kembali meminum air susunya. (Abu Hurairah mengatakan,
“Sekilas aku melihat Nabi seperti menghisap ibu jarinya)
Kemudian perempuan itu melihat
seorang budak wanita, lalu ia berdoa, ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku
seperti perempuan itu.’ Namun tiba-tiba anak yang digendongnya itu melepaskan
payudara ibunya. Maka perempuan itu menghadap ke arah budak wanita tadi dan
berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti wanita itu (dalam kesalehannya).’ Kemudian
perempuan itu bertanya kepada anaknya, ‘mengapa kamu melakukan hal-hal itu tadi
?’ Lalu anak itu menjawab, ‘Penunggang hewan tunggangan itu adalah seorang
penguasa yang zhalim, sedang budak wanita itu difitnah telah mencuri dan
berzina, padahal ia tidak melakukannya.’”
Sumber :
Qashash Al Anbiyaa’ (Kisah Para
Nabi), penulis : Imam Ibnu Katsir, penerbit : Pustaka Al-Kautsar
Al Qur'an dan Embriologi #2
Dahulu,
para ilmuwan tidak mengetahui bahwa ketika manusia senantiasa
mengalami perkembangan ketika manusia tersebut berada di dalam perut
ibunya. Para ilmuwan baru mampu mengetahui dan memberikan ilustrasi
sebuah janin yang berada di dalam perut ibunya ketika telah memasuki
era sains modern.
Pada
abad ke-2 masehi seorang ilmuwan bernama galen memberika gambaran
tentang plasenta dan membrane fetal di dalam bukunya yang berjudul
‘On The Formation of The Fetus’. Akan tetapi, itu belum cukup
untuk bisa menggambarkan tahapan-tahapan dalam perkembangan janin
yang berada di dalam perut ibunya. Seorang ilmuwan bernama Streteer
akhirnya mampu memberikan gambaran tentang tahap perkembangan janin
pada abad ke 20. Streeter merupakan orang yang pertama kali yang
menawarkan system pentahapan perkembangan embrio yang kemudian
digantikan dengan system yang lebih akurat yang ditemukan oleh
O’Rahilly (1972).
Jauh
sebelum itu, Islam menggambarkan betapa majunya ilmu pengetahuan
dalam ajaran-ajaran Islam. Pada 1400-an
tahun yang lalu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa salam
telah mampu menjelaskan tahap-tahap perkembangan embriologi dengan
jelas dan sangat detail. Tahapan perkembangan embriologi yang
disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Salam sangat
sesuai dengan penemuan-penemuan sains pada zaman modern. Para ilmuwan
hanya mampu menjelaskan tahapan embriologi ketika telah ditemukannya
mikroskop dan USG, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa
Salam mampu menjelaskan tanpa menggunakan itu semua, beliau
menjelaskan dengan petunjuk yang disampaikan Allah ta’ala lewat
firman-Nya dalam Al Qur’anul Karim.
Allah
Ta’ala berfirman :
“…Dia
menjadikan kamu dalam kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.”
(QS. Az Zumar : 6)
Kata
“dalam tiga kegelapan” yang dimaksudkan dalam ayat tersebut yaitu
(1) Zhulmatul Bathni atau kegelapan perut, (2) Zhulmatur Rahmi atau
kegelapan Rahim, dan (3) Zhulmatu Masyimah atau kegelapan ari-ari.
Hal ini tidak bertentangan dalam penemuan yang dikembangkan pada
zaman sains modern. Sains modern menjelaskan bahwa janin manusia
berada di dalam tiga lapisan, yaitu (1) Dinding anterior abdomen, (2)
Dinding Uterus, dan (3) Membran Amniotic (ari-ari identic dengan
membran amniotic).
Allah
Ta’ala berfirman :
“Kemudian
kami menjadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim).”
(QS. Al Mu’minuun : 13)
Syaikh
as-Sa’di menjelaskan Saripati atau Nuthfah adalah sesuatu yang
keluar dari laki-laki dan dari perempuan. Kemudian ia menetap
disebuah tempat yang kokoh yaitu Rahim.
Kita
semua telah mengetahuinya, bahwa yang keluar dari laki-laki adalah
sperma sementara yang keluar dari perempuan adalah ovum.
Setelah
itu sperma dan ovum kemudian bercampur, seperti yang telah dijelaskan
dalam Al Qur’anul Karim, yaitu :
“Sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur…”
(QS. Al Insan : 2)
Campuran
tersebut kemudian membentuk zigot yang membelah diri menjadi
blastocyst yang tertanam secara kuat di tempat yang kokoh (uterus).
Kemudian,
Allah Ta’ala berfirman :
“Kemudian
nuthfah itu Kami jadikan ‘alaqah”
(QS. Al Mu’minuun)
Kata
‘alaqah dalam bahasa arab memiliki 3 makna, yaitu lintah, sesuatu
yang tergantung, atau segumpal darah.
Makna
1. ‘alaqah bermakna lintah. Pada usia 1-24 hari, embrio manusia
yang menemopel pada endometrium tampak seperti lintah yang menempel
dikulit. Tidak hanya itu, embrio yang mendapatkan dari endometrium
deciduas juga mirip seperti seekor lintah yang mendapatkan darah dari
tempat ia menempel. Professor Keith L. Moore mencoba membandingkan
antara gambar lintah dan gambar embrio manusia pada usia 24 hari,
hasilnya beliau menemukan bahwa banyak sekali kemiripan diantara
gambar tersebut.
Gambar
Lintah (atas) dibandingkan dengan gambar embrio usia 24 hari (bawah)
Makna
2. ‘alaqah bermanka sesuatu yang tergantung. Hal ini dapat kita
lihat dari penempelan embrio manusia di uterus selama tahap ‘alaqah.
Makna
3. Segumpal darah. Selama tahap ‘alaqah ini terjadi pembentukan
darah pada pembuluh darah tertutup sampai siklus metabolism selesai
diplacenta. Inilah alasan mengapa embrio memiliki penampakan seperti
gumpalan darah.
Demikianlah
penjelasan dari 3 makna yang terdapat dalam kata ‘alaqah. Dalam
penjelasan tersebut tidak ada satupun yang bertentangan dengan
pengetahuan modern.
Allah
Ta’ala berfirman :
“kemudian
‘alaqah itu Kami jadikan mudhghah.”
(QS. Al Mu’minuun : 14)
Mudhghah
dapat berarti segumpal daging atau sesuatu yang dikunyah. Embrio
manusia akan tampak seperti gumpalan daging atau sesuatu yang
dikunyah pada akhir minggu keempat. Tampilan primordial dari
vertebrae terlihat seperti sesuatu yang dikunyah.
Kemudian,
Allah Ta’ala berfirman :
“Kemudian
Kami jadikan mudhghah itu ‘idzhaman (tulang belulang), lalu tulang
belulang itu kami bungkus dengan lahma (otot).”
(QS. Al Mu’minuun : 14)
Ayat
ini menjelaskan bahwa setelah tahap mudhghah, tulang terbentuk
terlebih dahulu (sebagai model kartilago) kemudian otot berkembang
dan menyelimuti tulang-tulang tersebut.
Allah
Ta’ala berfirman :
“kemudian
Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain.”
(QS. Al Mu’minuun : 14)
Tulang
dan otot yang terbentuk menghasilkan makhluk dengan bentuk yang
berbeda. Hal ini bisa kita lihat pada akhir minggu kedelapan. Pada
masa ini, embrio telah memiliki bakal dari organ-organ tubuh baik
internal maupun eksternal dengan karakter yang khusus. Setelah minggu
kedelapan embrio tersebut memiliki panggilan baru, yaitu fetus. Hal
ini menjadikannya sebagai makhluk baru yang memiliki bentuk lain.
Allah
Ta’ala berfirman :
“dan
Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani”
(QS. An Nahl : 78)
Indra-indra
khusus seperti pendengaran, penglihatan dan peraba berkembang pada
fase ini secara bertahap, sesuai yang dijelaskan pada ayat tersebut.
Bakal telinga internal tampak lebih dulu, kemudian mata, dan yang
terakhir otak. Dengan otak inilah manusia dapat mengembangkan
pemahaman dan mampu membedakan antara yang baik dan buruk (hati
nurani).
Tidak
hanya sampai disitu, Allah menjelaskan kelanjutan dari apa yang
terjadi didalam Rahim yang tertuang dalam firmanNya yaitu :
“kemudian
dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna.”
(QS. Al Hajj : 5)
Ayat
tersebut menjelaskan bahwa embrio pada dasarnya tersusun atas
jaringan yang berdiferensiasi (sempurna kejadiannya)dan jaringan yang
tidak berdiferensiasi (tidak sempurna).
Demikianlah
Allah menjelaskan tahap perkembangan embriologi, sungguh Maha Suci
Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Tahapan
embriologi yang dijelaskan di dalam Al Qur’an yaitu sebagai berikut
:
- Nuthfah (setetes)
- ‘alaqah (bentuk seperti lintah atau segumpal daging, atau sesuatu yang tergantung)
- Mudhghah (seuatu bekas dikunyah atau segumpal daging)
- ‘idzhaam (tulang atau kerangka)
- Kisaa al ‘idzham bil laham (membungkus tulang dengan otot)
- An Nasy’a (pembentukan fetus yang sudah jelas)
Tahapan
embriologi yang diterangkan dalam Al Qur’an pada dasarnya
berdasarkan pada pengidentifikasian bentuk (morfologi) dan ukuran
yang lebih akurat dan mudah dipahami. Maha Suci Allah, Pencipta Yang
Paling Baik.
Wallahu
a’lam Bishshawab
Sumber
:
- Al Qur’anul Karim
- Abu Salma Muhammad, 2007. Mukjizat Embriologi di Dalam Al Qur’an. On Line : 15 Maret 2012
Saturday, January 28, 2012
Laki-laki yang paling mirip dengan Rasulullah
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alhamdulillah..Allahumma shalli ‘ala Muhammad Wa ‘ala aliy Muhammad.
Perhatikan pemuda gagah itu. Warna kulitnya cerah bercahaya. Ia lemah
lembut, sopan, santun, pengasih, pengasih, penyayang, baik, rendah hati dan
shalih. Ia pemberani, tak kenal takut. Ia pemurah tak takut miskin. Jiwanya
begitu bersih. Ia jujur dan bisa dipercaya.
Singkat kata, semua sifat baik dan keistimewaan ada pada laki-laki
ini. Anda tidak perlu heran, karena anda sedang berhadapan dengan orang yang paling
mirip bentuk tubuh dan akhlaknya dengan Rasulullah. Dialah Ja’far Ibn Abu
Thalib.
Ja’far ibn Abu Thalib termasuk orang-orang yang memeluk Islam
dimasa-masa awal. Ia datang kepada Rasulullah untuk memeluk Islam. Pada hari
itu, sang istri, Asma’ binti Umais juga memeluk Islam.
Ketika Rasulullah memerintahkan agar kaum muslimin hijrah ke Habasyah,
Ja’far beserta istrinya termasuk didalam rombongan kaum muslimin yang hijrah ke
Habasyah tersebut. Mereka tinggal di sana hingga Allah mengizinkan mereka untuk
pulang ke kampung halaman bertemu dengan Rasul dan para shahabat lainnya.
Pada suatu hari, Rasulullah mengutus
mengutus Abdullah ibn Umaiyyah Adh-Dhamri kepada Najasyi di habasyah
untuk menjemput kaum muslimin yang berada di habasyah pulang bertemu dengan
Rasulullah. Abdullah ibn Umaiyyah Adh-Dhamri kemudian membawa mereka pulang
dengan menggunakan dua kapal hingga tiba di tempat Rasulullah yang ketika itu
berada di khaibar. Saat itu, pasukan Muslimin baru saja meraih kemenangan di
medan khaibar. Rasulullah sangat gembira dengan kedatangan Ja’far Ibn Abu
Thalib, beliau mencium diantara kedua mata Ja’far Ibn Abu Thalib dan
mendekapnya seraya bersabda, “Aku tidak
tahu manakah yang lebih menggembirakanku, kemenangan perang khaibar atau
kembalinya Ja’far”
Telah sangat lama Ja’far tidak bersama dengan Rasulullah dan para
Shahabat. Ia begitu gembira ketika diceritakan kisah-kisah kemenangan kaum
muslimin diberbagai medan pertempuran, ketika mengetahui rekan-rekannya yang
syahid dipeperangan-peperangan yang telah lalu, air matanya pun berlinang
mengingat mereka. Sejak saat itu, ia menantikan peperangan untuk mendapatkan
kesyahidan yang didambakan.
Akhirnya kesempatan itu pun tiba, panji-panji perang Mu’tah berkibar,
Rasulullah mengirim pasukan untuk menghadapi pasukan Romawi dengan menunjuk
Zaid ibn Haritsah sebagai komandan pasukan. Rasulullah Saw. bersabda, “Jika
Zaid gugur, maka yang menjadi komandan pasukan adalah Ja’far Ibn Abu Thalib.
Jika Ja’far Ibn Abu Thalib gugur, maka yang menjadi komandan pasukan adalah
Abdullah Ibn Rawahah.”
Di hari yang mencekam itu, dua pasukan besar tersebut pun berhadapan.
Pasukan Romawi saat itu berjumlah 200 ribu orang, sementara pasukan muslim yang
dikirim ke Mu’tah saat itu berjumlah 3000 pasukan. Pertarungan pun berlansung, peperangan
itu berjalan sengit hingga Zaid Ibn Haritsah gugur dalam medan laga. Sewaktu
bendera pasukan Muslimin hampir jatuh terlepas dari tangan Zaid, Ja’far
menyambarnya dengan cepat. Ketika peperangan mulai memuncak, Ja’far dikepung
oleh banyak musuh, ia merasa kudanya menghalangi geraknya, Ja’far pun turun
dari kudanya dan menerjang kesana kemari. Sekilas ia melihat seorang tentara
musuh melompat hendak menunggangi kudanya. Karena ia tidak ingin kudanya
dikendarai oleh musuh, ia pun menebas kudanya. Perang berlangsung sengit hingga
3 komandan pasukan yang ditunjuk oleh Rasullah wafat dan panji kaum muslimin
pun dipegang oleh Khalid Ibn Walid.
Allah, Zat yang Maha Mengetahui memberikan kabar peperangan dan nasib
Ja’far kepada Rasulullah. Rasul pun menangis. Ibnu Ishaq berkata, “ketika para
komandan pasukan islam gugur, Rasulullah Saw bersabda, ‘bendera perang dipegang
Zaid Ibn Haritsah kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid, lalu
bendera perang diambil alih oleh Ja’far Ibn Abu Thalib, kemudian ia bertempur
hingga gugur sebagai syahid.’ Rasulullah diam hingga wajah orang-orang anshar
berubah dan menyangka telah terjadi sesuatu yang tidak disukai pada Abdullah
Ibn Rawahah. Rasulullah Saw. Bersabda lagi, ‘kemudian bendera perang diambil
alih oleh Abdullah Ibn Rawahah, lalu ia bertempur hingga gugur sebagai syahid”.
Setelah itu Rasulullah pergi ke rumah saudara sepupunya tersebut, Ja’far Ibn
Abu Thalib. Beliau memangggil anak-anaknya. Beliau memeluk dan mencium mereka
sementara air matanya bercucuran tak tertahankan.
Begitulah sekelumit kisah tentang seseorang yang bentuk tubuh, akhlak
dan perilakunya mirip dengan Rasulullah, berjuang dengan sabar dan tabah untuk
Allah ia rela mempertaruhkan nyawa, tak terbesit dalam dirinya mundur meskipun
telah jelas kaum muslimin kalah jumlah yang sangat besar dibanding pasukan
Romawi.
Ibnu Hisyam berkata, “ulama yang aku percayai berkata kepadaku bahwa
Ja’far Ibn Abu Thalib memegang bendera perang dengan tangan kanannya hingga
putus, kemudian ia memegang bendera perang dengan tangan kirinya hingga putus,
kemudian ia dekap bendera perang dengan kedua lengannya hingga gugur. Ada yang
mengatakan bahwa salah satu seorang tentara Romawi menyerangnya hingga badannya
terbelah menjadi dua.”
Pedang dan tombak yang membunuh Ja’far hanya penyebrangan bagi Ja’far
untuk bertemu dengan TuhanNya yang Maha Pengasih. Ia akana berada di sisiNya,
ditempat yang mulia, si surge yang abadi, tempat yang didambakan.
Rasulullah bersabda, “aku melihatnya di surga. Dia mengenakan dua
sayap yang masih berlumuran datah dan bertaburkan bintang kehormatan.”
Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah
hidup dan perjuangan Ja’far Ibn Abu Thalib, seseorang yang sangat penyantun
terhadap orang-orang miskin kata Abu Hurairah. Seseorang yang bijak dalam
berbicara, mampu memberikan penjelasan yang baik tentag Nabi Isa hingga kaum
Muslimin diperbolehkan tinggal di Habasyah dan diberikan perlindungan
sepenuhnya di negara itu, seseorang yang membacakan surat Maryam kepada Najasyi
Raja Habasyah hingga menangis mendengarnya. Seseorang yang diberikan dua sayap
di surga. Seseorang yang paling mirip bentuk tubuh dan akhlaknya dengan
Rasulullah.
Allahu a’lam Bishshawab..
Referensi :
Sirah Nabawiyah Ibnu Husyam Jilid 2
60 Sirah Sahabat Rasulullah Saw.
Saat-saat berkesan bersama Rasulullah Saw.
Saturday, December 24, 2011
Takbir Menyejarah
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alhamdulillah, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad..
Mungkin beginilah perasaan Rasulullah dan para shahabat saat kalah dalam perang uhud. Di saat kemenganan sudah berada di depan mata, ketidaktaatan terhadap perintah Rasul menjadikan kemengangan itu sirna dalam sekejap, bahkan Rasulpun terdesak hingga hampir saja terbunuh jika tidak dilindungi oleh thalhah bin ubaidillah. Penyebab utama kekalahan itu salah satunya karena orang-orang munafik yang menggerogoti tubuh umat muslim. Ya..mungkin seperti inilah rasanya..
Malam itu, sekitar pukul 3 malam, saat perhitungan hampir selesai dan keunggulan lawan sudah tidak mampu dikejar lagi, ikhwan-ikhwan yang sudah mulai lelah dikumpulkan dan dibariskan di gelanggang mahasiswa. Kami semua berbaris, berbaris dibawah langit yang cukup cerah malam itu dan suasana yang agak dingin. Setelah itu sedikit taujih diberikan untuk mnyemangati ikhwan malam itu, tapi tetap saja sulit, mata kami terus berkaca kaca, tak mampu menahan air mata. “tidak perlu bersedih hati, ini semua adalah ketetapan Allah..kita semua telah menyepurnakan ikhtiar dan doa, tapi apalah daya, Allah telah menetapkan ini semua jauh sebelum alam semesta ini diciptakan, dan inilah hasilnya. Dengan ini, kita semua harus tetap berdakwah, dimanapun, kapanpun, meskipun tanpa lembaga karena tanpa lembaga pun kita semua dapat tetap berdakwah”, seperti itulah kira-kira isi dari taujih malam itu, kemudian dilanjutkan dengan doa rabithah, saat itu, kami semua tak mampu lagi menahan tangis, isak tangis terdengar jelas dari samping kiri dan kanan ku saat itu,.ya..mungkin seperti inilah perasaan Rasulullah dan para shahabat saat kalah dalam perang uhud (tapi yang pasti, pukulan yang dirasakan umat muslim dalam kekalahan uhud mesti lebih menyakitkan dari pada kekalahan yang kami alami).
Setelah doa dipanjatkan, pemimpin barisan mengatakan, “setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, kita semua keluar dari gelanggang ini dengan takbir –karena saat itu kami menang-, saat ini, apakah kalian semua berani jika kita bertakbir ?!”..sambil berbisik saya dan beberapa orang dibarisan berkata “berani !”. maka, ditengah sunyi dan senyapnya malam itu, di waktu-waktu terakhir perhitungan, beliau berkata, “takbir !” dan disambut dengan takbir –mungkin ini takbir yang paling kencang yang pernah saya pekikkan- “ALLAHU AKBAR”..”takbir !” ..ALLAHU AKBAR..”takbir !” ALLAHU AKBAR !!
Takbir yang menyejarah menggelegar digelanggang mahasiswa malam itu..era baru dunia dakwah kampus UGM pun dimulai..
Banyak hikmah yang bisa diambil, ini menandakan bahwa kita harus terus berbenah..yang jelas dengan tegas saya katakan, “SAMPAI KAPAN PUN, DIMANA PUN, DENGAN ATAU TANPA LEMBAGA, KAMI SEMUA AKAN TERUS BERDAKWAH, HINGGA TERWUJUDNYA ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN !! “
Suatu saat akan terbukti, siapakah yang paling professional, siapakah yang kontributif, dan siapakah yang paling baik amalnya dihadapan Allah..mari kita buktikan kawan, siapakah yang paling baik amalnya,.
Kami semua akan terus beramal, terus berkontribusi untuk Indonesia dan untuk Agama Allah.,yang jelas dengan tegas saya katakan, “SAMPAI KAPAN PUN, DIMANA PUN, DENGAN ATAU TANPA LEMBAGA, KAMI AKAN TERUS BERKONTRIBUSI DEMI BANGSA DAN TANAH AIR INDONESIA, DEMI AGAMA ALLAH YANG MULIA”
Tetap berjuang kawan..perkuat keimanan, pererat ikatan ukhuwwah..tetap istiqamah hingga berjumpa dengan Rabb yang agung Allah ta'ala..mari kita sambut dengan senyuman dan semangat membara, "era baru dakwah kampus UGM"
Tuesday, December 13, 2011
Mana Ikhwan Untukku ?
Tulisan ini banyak ibrahnya, mangga di ambil manfaatnya..ini bukan tulisan saya, saya hanya copast..sumber aslinya saya lampirkan dibawah dari tulisan ini..
bismillah
...............................................
BLEDERR!! Subhanallah,
kaget bukan buatan setelah kubaca pesan singkat di ponsel. Allah, ada yang
hendak melamarkuuu! Ini sebuah prestasi, eh (mikir) ya prestasi. Aku baca
ulang; hmm, apa ada yang keliru dengan cara ini?
“Mirror mirror on the
wall, pantaskah aku mendampinginya?” sedikit gila, aku ngobrol dengan kaca
meja rias.
Kenapa mesti ngaca,
orang seperti dia tentu melamar perempuan bukan karena fisik, kaca menjawab. Tapi sepertinya itu suara hatiku.
Umar. Nama sahabat Nabi,
juga nama sahabatku. Mungkin sama kualitas jika hidup semasa, analisaku saja.
Umar—yang kawanku—sejak SMA selalu berprestasi, pikirannya tajam, sikapnya
tegas, saleh tentu saja. Dan, posturnya itu… wajahnya itu…
astaghfirullaha’azhim. Aku pernah mengaguminya sebelum hijrah. Lalu aku tobat,
karena kekagumanku bertepuk sebelah tangan.
Diterima di kampus yang
sama, aku dan Umar berbeda fakultas. Jika bertemu tidak saling sapa, tentu
saja, kami tidak saling pandang. Tapi aku hapal bayangannya, karena tiga tahun
di SMA kami selalu satu kelas.
Tidak ada yang
kebetulan. Hari ini, di hapeku, pada sebuah pesan yang kupastikan tak salah
kirim, seorang kawan yang lain mengabarkan keinginan Umar melamarku.
Wiwi nama kawanku itu,
agak aneh memang. Menggambarkan orangtua yang tidak kreatif, halah! Ia sudah
menikah dua tahun lalu, curi start padahal kuliahnya belum lagi kelar. Sekarang
kami sarjana, tapi menganggur. Tidak apa, kan ada suami yang menanggung biaya
hidup. Prinsip yang salah. Tolong, kembalilah ke topik!
Wiwi, aku, dan Umar satu
organisasi, sebuah lembaga dakwah skup terbesar di kampus. Tidak ada yang
istimewa dengan persahabatanku dan Wiwi, kecuali bahwa dia menikah dengan kakak
sepupuku, dan kami pernah bertengkar gara-gara pada sepupuku itu, kuceritakan
kisah Wiwi yang dulu pernah sms-an ganjen dengan ikhwan senior.
Kami saling diam, lalu
berbaikan lagi saat lebaran. Bertengkarnya pada dua hari terakhir Ramadhan.
Ke nomor ponselku, Wiwi
yang tidak istimewa mengirimkan pesan ajakan ta’aruf dari Umar. Apa lagi yang
hendak dikenalkan? Ayolah Umar, bukankah kita sudah saling kenal. Kadang-kadang
agresif itu tidak baik, nuraniku angkat bicara.
Hatiku berbunga-bunga.
Tombol gulir kuarahkan ke bawah, menuju huruf ‘e’, memanggil seseorang yang
kuberi nama ‘em-er’ pada ponsel.
“Assalamu’alaykum. Apa
kabar, Mbak? Djkalhf fieoifepi dkajdkajs kugruipgoripogsw…” sebagai orang
Indonesia, etika berbasa-basi hukumnya wajib.
… terus
berbicara sambil melihat jam, pulsa berlari kejam karena beda
operator …
Mbak Em-er adalah
penasihat spiritualku, ya kalau berlebihan sebut saja guru ngaji. Teman berbagi
masalah yang bertemu muka satu pekan sekali. Kadang-kadang libur juga jika ada
acara besar, dan pertemuan dialihkan ke acara besar itu.
“O begitu… umur Ika
sekarang berapa?”
“Dua satu, Mbak,”
jawabku mantap. Masih muda kan, tapi sudah laku, gila!
“Sayang loh, masih muda
banget. Energinya masih bisa disalurkan buat umat.”
“Memangnya kalau sudah
nikah nggak bisa ngurusin umat lagi ya, Mbak?” tanyaku lugu.
“Bisa. Tapi harus
berbagi dengan suami, anak, rumah… ya kan?”
Kok nanya balik, mana
aku tahu. “Jadi gimana,
Mbak?”
“Tunda dululah. Lagipula
kita punya jalur kok, Ika tunggu saja proposal nikah dari ikhwan lewat Mbak.
Insya Allah lebih bisa dipercaya.”
Aku kaget lagi.
Benar-benar simalakama. Lantas aku pusing, antara Umar dan Mbak Em-er. Aku
cinta keduanya. Apa? Keliru, aku cinta Mbak Em-er. Umar bukan siapa-siapaku,
tidak lebih utama dari penasihat spiritual utusan struktur wilayah.
Wiwi ikut kaget mendapat
balasan pesan dariku. Lewat telepon, ia khutbah tanpa naskah. Tapi Wiwi hanya
tokoh tidak penting, ia marah karena tidak mampu menyenangkan hati Umar. Dan
asal tahu saja, Wiwi nikah lewat jalur swasta. Kakak sepupuku, yang shalihnya
biasa-biasa saja, langsung datang menemui orangtua Wiwi, tidak lewat ustadz.
***
Sepekan kemudian.
Dasar mimpi, tiga hari
berturut-turut Umar hadir di sana. Tapi syukurlah, ketaatanku pada Mbak Em-er
mampu meredam keinginan yang menurutku tak pantas itu. Prinsipku, yang baik
untuk yang baik. Itu kata Quran, jadi santai saja.
Empat bulan berikutnya.
Tapi, ‘santai’ itu cuma
gampang diketik. Kini, setelah dengan pongah kutolak Umar, hatiku hancur lebur
jadi puing paling puing. Undangan pernikahan Umar tergeletak manis di meja
kamarku. Wiwi dengan sangat girang mengantarkannya, bahkan sampai ke kamar. Dia
tentu tahu, malam ini bantal gulingku akan banjir.
Betul kata Quran, yang
baik untuk yang baik. Umar menikah dengan seorang akhwat yang kelihatan
biasa-biasa saja, tapi aku tahu hapalannya banyak, rajin tahajjud dan puasa
sunnah. Jangan tanya dari mana aku tahu, akhwat itu binaanku. Sasi, akhwat yang
dari segi fisik bertipe standar, tapi membuatku gentar dan kapok untuk
mengevaluasi amalan binaan di akhir kajian. Lagi-lagi Umar melamar anak orang
tanpa lewat ustadz atau siapalah yang cukup punya label untuk disegani. Mungkin
karena Wiwi dianggap tidak kapabel jadi comblang, Umar datang sendirian menemui
orangtua Sasi. Karena orangtua Sasi sudah setuju, binaanku yang dahsyat itu
kemudian meneleponku bukan untuk minta restu, tapi sekadar mengabarkan rencana
pernikahannya. Oh dunia, kau seperti ibu tiri!
Melihat kenekatan cara
Umar, kupikir ia tidak dalam lingkaran pengajian lagi—aku cukup berharap, agar
hati ini sedikit terhibur—tapi melihat tamu yang hadir di walimahan sederhana
itu, makin retak jantungku. Rupa dan bau mereka familiar semua.
Hari ini, pada ulang
tahun ke enam hancurnya hatiku.
Penasihat spiritualku
sudah lima kali ganti. Sekarang kajian pekanan diisi oleh Mbak Em-er Lima, tapi
aku masih sendiri. Setia menanti janji Em-er memberi ikhwan yang lebih pantas
untukku. Kabarnya, biodata yang kuukir-ukir dulu sudah menguning di laci besi
milik Kaderisasi.
Kulihat kerut dahi Bunda
makin bertambah, apalagi jika keluarga datang silaturahim. Orang-orang tak
kreatif itu seperti tak punya bahan selain membahas jodoh.
Bunda seperti orang
dapat wangsit, selalu optimis menyiapkan segala hal untuk rumah tanggaku kelak.
Beberapa alat dapur yang masih baru beliau tandai dengan inisialku, sebagai
jatah karena tak mampu memberi warisan sepetak sawah, tanah, atau rumah seperti
di sinetron-sinetron.
Melihat semua itu, baru
kusadari; aku kualat.
Enam tahun lalu aku
meminta izin pada orang yang bahkan tak ingat berapa usiaku, dan sekarang yang
bersangkutan tak bisa dituntut pertanggungjawabannya. Ke mana materi kajian?
Aku bahkan lupa untuk shalat istikharah, karena ketaatanku salah tempat.
Kesadaran yang mutlak telat, bahwa posisi syariat berada di atas aturan atau
AD/ART organisasi mana pun.
Sekarang Umar sudah
beranak tiga, sedang aku hanya berharap segera melepas predikat single sebelum
berkepala tiga. Tak berani terus terang pada Bunda soal enam tahun lalu,
khawatir keijabahan doanya sebagai ibu pudar sebab kecewa.
Menurut teori,
seharusnya aku berusaha. Maka ikhtiarku kali ini adalah mendongkrak doa Bunda
untukku yang kuyakin selalu ada dalam shalat malamnya. Usia sudah menyurutkan
semangatku untuk aktif, termasuk menjemput jodoh—entah dengan cara apa.
Terbukti, sekarang aku lebih melow, tidak lucu lagi.
Contohnya pada detik
ini, sekompi orang dari pihak Ayah datang ke rumah, ujug-ujug menawarkan
beberapa laki-laki kampung mereka untuk dijadikan menantu Ayah-Bunda. Ada yang
juragan kambing, tauke sawit, PNS,….
“Tapi ya… mereka nggak
jenggotan. Celananya biasa aja, nggak cingkrang. Biarlah, daripada yang jaga
masjid itu, jidatnya item tapi makan aja nunggu dikasih warga.”
“Bla.. bla.. bla..”
“Gimana, Ka?” tanya
Bunda.
Serrr… Bunda tidak serta
merta memberi keputusan, beliau lebih dulu bertanya padaku. Jangankan menjawab,
hatiku malah berdarah-darah mengingat kedurhakaanku melangkahi otoritasnya
sebagai orangtua.
Wednesday, November 9, 2011
Kehilangan Qudwah
Alhamdulillah..Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad
………………………………………………
Saya bingung harus mulai dari mana ketika membicarakan tentang ini.
Setelah lebih kurang 3 tahun berkecimpung dalam dakwah kampus, baru kali ini
merasakan ini…merasakan tidak ada satu orangpun yang mampu dijadikan Qudwah.
Sebagai angkatan yang paling tua, saya sadar bahwa seharusnya saya lah yang
berusaha untuk mengkondisikan diri dengan baik hingga dapat dijadikan contoh bagi
yang lainnya. Hanya saja, sampai saat ini saya merasa belum cukup pantas untuk
dijadikan contoh bagi yang lainnya. Untuk itu, tulisan ini bermaksud untuk
mengingatkan teman-teman seperjuangan begitu pula diri saya.
Kondisi saat ini (bagi saya) benar-benar memperihatinkan. Kader dakwah
saat ini telah terbawa oleh arus besar kemajuan teknologi yang mempermudah
komunikasi. Seharusnya perkembangan teknologi dan alat komunikasi dapat membuat
kemajuan yang significant terhadap gerakan dakwh karena bisa mempermudah
komunikasi, tapi akhirnya…masalah komunikasi justru menjadi problem klasik yang
terus terjadi, berulang dan berulang dari tahun ke tahun..lalu, apa manfaat
dari kemajuan teknologi dan alat komunikasi terhadap kerja-kerja dakwah hingga
saat ini ??
Kader dakwah saat ini tidak mampu membatasi dirinya terhadap
aktivitas-aktivitas mubadzir yang menghabiskan waktunya sia-sia. Komunikasi
berlebihan lewat FB yang tidak bermuatan, interaksi bebas yang dapat mengurangi
keberkahan (mungkin) terus saja dilakukan. Dalihnya sangat bagus, “refreshing”
sejenak…ya..boleh lah refreshing sejenak..tapi kenapa aktivitas dakwahnya
setelah itu sama sekali tidak ada peningkatan ??? di FB, komunikasi terlihat
lancar, berinteraksi dengan sangat cair, begitu bebas..tapi, ketika di sms
untuk membahas agenda dakwah, tidak dibalas..sms syura yang meminta konfirmasi
“bisa atau tidak” saja tidak dibalas..dimana efek “refreshing” yang seharusnya
menyegarkan aktivitas kita ?? atau memang “refreshing” di FB atau apapun telah
menjadi aktivitas utama kita saat ini ?? setiap orang pasti akan berupaya untuk
senantias husnudzan terhadap saudaranya,,sayangnya saudaranya itu sendiri yang
menutup pintu-pintu yang dapat memberikan alasan kuat untuk senantiasa
berhusnudzan dan membuka dengan lebar celah-celah dzan di dalam hati yang dapat
menimbulkan suudzan.
Kita semua sangat paham, bahwa kita memiliki bagian kehidupan lain
selain dakwah yang perlu diperhatikan. Oleh sebab itu terkadang sesi
tanya-tanya kabar sering diselipkan ke dalam syura untuk mengetahui keadaan
saudara kita, apakah sedang ada masalah..atau sangat memerlukan bantuan..atau
sedang senang dan ingin dibagikan kepada teman yang lain..hal itu dilakukan
untuk memfasilitasi kita semua agar tidak merasa dikuras tenaganya untuk aktivitas
dakwah. Kita semua juga sangat paham, bahwa terkadang masalah-masalah kita
sangat tidak pantas untuk disampaikan di forum, karena merupakan hal yang
pribadi..melihat kondisi itu, dicoba untuk menggunakan sms untuk
memfasilitasi..agar kondisi kita hanya diketahui oleh orang yang benar-benar
kita percayai dan bantuan pun dapat kita terima…tapi…ternyata sekarang hal ini
tidak begitu efektif. Para aktivis lebih tertarik menyampaikan masalahnya ke FB
untuk dinikmati hal layak ramai, hingga terkadang saya melihat ada beberapa hal
yang sangat personal yang tidak perlu disampaikan ke halayak ramai justru
disampaikan..sebenarnya apa yang kita inginkan ?? comment dan like ?? ketika
ditanya di forum tidak di jawab, di sms tidak dibalas (dengan alasan menjaga
komunikasi) tapi di FB..semua dikeluarkan, bahkan tak jarang sesuatu yang
tergolong aib pun disampaikan…comment dan like pun berdatangan, komunikasi
bebas tak beralasan pun terjadi..lalu, ada dimana komitmen menjaga komunikasi
??
Kenapa kita berusaha menghindari sms “berbau” dakwah dan mengutamakan
comment2 bebas tak bermuatan (bahkan cenderung negative dampaknya) ??
Dulu..aktivis dakwah adalah orang-orang yang terlihat sangat
kokoh..teguh pendiriannya terhadap syari’at..mereka terlihat demikian karena
mereka mampu menahan diri dari mengumbar aib mereka..karena mereka mampu
berusah untuk menjaga interaksi baik lewat sms apalagi di dunia maya yang
diketahui oleh orang banyak..semua itu mereka lakukan karena mereka sadar bahwa
mereka telah terlabeli sebagai kader dakwah..mereka harus kokoh..mereka harus
berkomitmen terhadap syari’ah..kapanpun, dimanapun…
Mereka tidak pernah takut dikatakan kolot..mereka tidak pernah
bergoyang dari pendiriannya hingga mereka dikenal dengan orang-orang yang
ideologis..mereka tetap berupaya untuk memperbaiki diri agar menjadi mukmin
yang shalih/shalihah tanpa membatasi diri mereka terhadap interaksi sosial
hingga mereka tidak cenderung dikucilkan..bahkan dengan paduan kedua itu,
mereka benar-benar mampu menjadi tokoh dan panutan dimasanya tidak hanya bagi
kader dakwah..tapi bagi seluruh mahasiswa..begitulah contoh kecil dari rahmatan
lil ‘alamin…
Lalu…masihkah kita tetap ingin menjadi seperti ini ?? tertelan dengan
kemajuan teknologi dan komunikasi, termakan oleh berbagai kosa kata baru…lebay..alay..ababil..ga
gaul..ga keren..ikut-ikutan mencap perbuatan-perbuatan buruk dengan kata
“gokil”..terjerumus menggunakan kata-kata “ga gaul” terhadap saudaranya yang
menyediakan sedikit waktunya untuk berdiam di masjid menghafalkan al Qur’an…lalu..siapa
yang akan dicontoh akhirnya ??? yang baik sekarang terlihat buruk..yang buruk
terlihat baik…begitulah brand yang terbangun saat ini…sadarkah kalian ? kalian
sedang dilihat dan diperhatikan..apapun yang kalian lakukan sering kali
dijadikan pembenaran bagi yang lain untuk ikut melakukannya..so..berikanlah
contoh yang baik J
haah..rindu Rasulullah.. T,T
Wallahu a’lam
Tuesday, November 1, 2011
Mulai suka membaca
Bismillaahirrahmaanirrahiim….
Membaca
bukan merupakan hal yang mudah bagi saya. Saya sangat suka membaca,
tetapi bukan bacaan-bacaan yang berat melainkan bacaan yang ringan seperti komik. Banyak sekali
tumpukan komik di kamar yang saya koleksi sejak tahun pertama kuliah.
Hingga suatu saat, sebuah pertanyaan menohok menimpaku. Seorang
ustadz berkata dalam sebuah forum kajian yang saya hadiri, “kalian
sebagai seorang muslim, sudah sejauh mana menjadikan Rasulullah
sebagai idola ? setiap kali ditanya, siapa idola kalian ? kalian akan
menjawab, Rasulullah. Tapi, apakah kalian sudah membaca kisahnya ?
bahkan buku sirah pun tidak ada dalam rak buku di kamar kalian, saya
yakin itu !”.
Sejak
saat itu pikiranku mulai berubah, mulai coba ku lirik buku-buku sirah
di toko buku, tapi sayang sekali, bukunya tergolong buku yang
harganya cukup mahal. Akhirnya, niat untuk membeli buku sirah ku
tunda dulu sejenak, menunggu hingga memiliki cukup banya uang untuk
membeli sebuah buku sirah. Waktu terus berlalu hingga cukup lama
sejak kajian tersebut, hingga saya lupa akan niat untuk membeli
sebuah buku sirah.
…………………………………………………………………………
Saat
itu saya sudah benar-benar hampir melupakan niat untuk membeli buku
sirah, hingga ketika saya diberikan tugas untuk membaca oleh seorang
kakak kelas di fakultas. Ketika itu beliau meminta kepada saya untuk
membaca 3 buah buku, salah satu diantaranya adalah sirah nabawiyah.
Dengan sedikit uang yang ku miliki, ku putuskan untuk membeli sebuah
buku, bukan buku sirah dengan alasan harganya yang mahal.
Ku
coba untuk membaca buku yang sudah ditugaskan untuk dibaca itu, yang
ku dapatkan adalah hal-hal yang luar biasa, banyak sekali kisah-kisah
heroic nan apik yang diceritakan di dalam buku tersebut. Buku itu
banyak sekali mengutip kisah-kisah para sahabat, kisah perjalanan
hidup Rasulullah dan detik-detik heroic saat peperangan di zaman
Rasulullah. Buku itu benar-benar menggoda hati ini untuk membaca
kisahnya langsung dari sumbernya, sirah nabawiyah.
Akhirnya
dengan duit seadanya, ku putuskan untuk membeli sebuah buku sirah.
Betapa senangnya hati ini saat membelinya, tak sabar ingin cepat
pulang dan sampai di kos untuk membaca buku tersebut. Setiba di kos,
ku coba untuk mulai membaca buku sirah yang baru saja ku beli.
Dengan
penuh semangat ku buka lembaran demi lembaran dari buku sirah itu. Ku
baca dengan penuh gairah satu persatu kata yang ada. Tapi, beberapa
lembar kemudian, semangatku menurun, aku mulai mengantuk, dan harus
ku akui bahwa buku ini sangat membosankan. Bagaimana tidak ? saya
harus berhadapan dengan berbagai silsilah keluarga bangsa arab dengan
nama-nama khas arab yang mirip-mirip, itu benar-benar membosankan.
Lalu aku berpikir, dimana kisah-kisah menariknya ???
Ditengah
kebosanan saat membacanya, aku teringat kembali perkataan seorang
ustadz yang berkata tentang pentingnya membaca dan mengetahui sirah
Rasulullah, akhirnya aku berupaya untuk bisa istiqamah dalam
membacanya. Dengan kondisi sebosan apapun, ku coba untuk tetap
mengamati cerita dalam buku itu, halaman demi halaman. Hingga
akhirnya bab tentang silsilah keluarga arab pun berhasil ku lewati.
Memasuki
bab berikutnya kisahnya semakin menarik. Rasulullah dan shahabatnya
benar-benar pahlawan dunia. Kisahnya apik dan sangat menggugah. Tidak
sia-sia aku berupaya untuk istiqamah saat membaca bab-bab awal. Buku
yang tadinya ku rasa cukup membosankan ini kemudian menjadi buku yang
terus selalu ingin ku baca. Setiap kali ku hentikan membacanya untuk
melakukan aktifitas yang lain, rasa untuk membuka
lembaran-lembarannya kembali untuk melihat kelanjutan kisahnya
semakin kuat. Buku yang addictive.
buku
itulah yang membuat saya menjadi seorang yang suka membaca, buku apik
yang mengisahkan kehidupan seorang manusia yang paling sempurna
akhlaknya, buku yang sangat patut dibaca oleh setiap muslim, sirah
nabawiyah
Monday, October 31, 2011
Luruskan Niat...
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Hah…hujan rintik-rintik diluar
sana, tak ada apapun yang bisa kulakukan. Ingin nonton TV, tapi saying waktuku
jika hanya untuk menonton TV..Ingin tidur, tapi waktunya masih awal, jam 12 pun
belum sampai…
Tiba-tiba terbesit didalam
pikiranku, “untuk apa aku memilih profesi ini ?” Perawat…kenapa ? hmm…suasana
hujan semakin menambah melankolis…
Melihat jauh kedepan, sepertinya
masa yang akan datang tidak akan begitu mudah. Kenikmatan seperti saat kuliah
mungkin akan semakin sulit dirasakan, kesibukannya mungkin akan semakin padat…bagaimana
jadinya jika saya masih belum juga menghafal Qur’an ini saat masih kuliah ?
apakah nanti saya masih memiliki waktu luang ?
Libur ?? sepertinya sebuah kata
yang perlu dihapuskan dari kosakata kehidupan dimasa depan saat bekerja,
kecuali jika memang ingin mengambil jatah cuti..bagaimana dengan keluargaku ?
bagaimana dengan saudaraku ? bagaimana dengan dakwahku ? apakah masih ada waktu
??
Menelusuri berbagai kisah para tetuah
yang sudah cukup berpengalaman dalam hal ini, melihat semuanya dari segala
perspektif..ternyata itu semua tidak mudah..terlebih dengan adanya orang-orang
yang mundur perlahan atau mengurangi aktivitas dakwahnya hanya karena kesibukan…saya
tidak ingin seperti itu..
Hmm…kenapa bisa memilih profesi
ini ??
Mencoba menilik kembali, melihat
dengan teliti kisah-kisah mereka..dan ku dapati orang-orang hebat di sana…kenapa
mereka bisa sebegitu kokohnya ??? terus bersabar..bergerak, meskipun kadang
mereka benar-benar tidak memperdulikan diri mereka..hebat..semoga mereka bisa
benar-benar istiqamah hingga berjumpa denganNya..
Jalan dakwah memang tidak
mudah..jika mencari kesenangan dunia, maka bukan ini tempatnya..karena kami
tidak memperhatikan itu,.ingin mencari popularitas ?? maka buanglah niat itu,
karena disini kita bekerja dengan team..semua kesuksesan adalah kerja keras
team..disini hanya aka nada cobaan dan ujian yang mendewasakan..
Memutuskan menjadi seorang muslim
yang berprofesi sebagai perawat adalah keputusan yang luar biasa..tidak semua
mampu melakukannya..mereka yang mampu melakukannya hanya orang-orang yang
memiliki jiwa sosial yang tinggi..peduli terhadap orang lain..tidak suka
menyombongkan diri..sangat pandai berkomunikasi..pandai menutupi masalah
pribadinya dihadapan orang lain…mengorbankan hidupnya untuk mengabdi pada
masyarakat..
Jika tidak memiliki itu
semua..maka hampir bisa dipastikan orang-orang tersebut akan terhepas..so,
teruslah berjuang..luruskan niat semua pengorbanan yang kita lakukan hanya
untuk Allah..Semoga Akhirat dapat meresap dihati, dan dunia dapat dipegang
dalam genggaman tangan..
Ibsin FK UGM, 31 okt 23.43
Al Qur'an dan Embriologi
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
“kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (Rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik.”(QS. Al Mu’minuun 13-14)
Ayat di atas merupakan sebagian bukti yang menunjukkan akan kebenaran Al Qur’an. Sebuah kitab suci yang senantiasa dijaga keasliannya oleh Allah ta’ala.
Sebuah hal yang sangat disayangkan, akhir-akhir ini kita menemukan orang-orang yang tidak lagi berpegangan pada Al Qur’an dan Sunnah bahkan tidak sedikit diantaranya yang mengajak orang lain untuk menjauhi Al Qur’an yang menurut pandangan mereka sudah ketinggalan zaman. Mungkin..inilah penyebab utama kemunduran umat Islam saat ini.
Umat islam pernah memberikan masa yang terang bagi dunia ini, banyak sekali penemuan-penemuan baru yang memperkaya keilmuan di dunia dan tidak sedikit diantaranya menjadi landasan untuk keilmuan modern yang kita nikmati saat ini. Sebut saja ibnu sina, salah satu ilmuan islam yang sangat dikenal didunia ini. Taukah kalian bahwa dialah “bapak pengobatan modern” ? salah satu buku karangannya telah menjadi rujukan dunia kedokteran selama berabad-abad, itulah buku Qanun fi Thib, hingga saat ini buku Qanun fi Thib masih menjadi buku rujukan dunia kedokteran terlama sepanjang masa.
Taukah kalian ? dibalik semua itu, dia adalah seorang yang hafidz Qur’an. Ada yang mengatakan dia menghafal Qur’an di usia 7 tahun, ada juga yang mengatakan dia menghafal Qur’an di usia 11 tahun. Hikma yang dapat kita ambil adalah beliau mempelajari Al Qur’an terlebih dahulu sebelum mempelajari yang lain. Beliau menggali berbagai macam ilmu di dalam Al Qur’an kemudian membuktikan kebenarannya dengan berbagai macam penemuan yang dilakukannya.
Lalu..kenapa kita menghindari Al Qur’an ?? seolah-olah kita tidak pernah ada waktu untuk sedikit membaca Al Qur’an. Mungkin itulah yang menyebabkan orang-orang berilmu di masa sekarang ini kebanyakan tidak memiliki moral yang baik. So..mari pelajari Al Qur’an, semoga dengannya Allah menjadikan kita salah satu ilmuan besar di zaman modern ini.. J
Seorang professor ketika ditanyakan tentang ayat di atas berkata :
"Sungguh menyenangkan sekali bagiku untuk membantu menjelaskan peryataan mengenai perkembangan manusia dalam Al Qur'an. Sangat jelas bagiku bahwa peryataan-peryataan ini pasti datang kepada Muhammad dari Allah, karena hampir seluruh pengetahuan ini belum diketemukan hingga beberapa aad kemudian. Hal ini membuktukan kepadaku bahwa Muhammad pasti adalah seseorang utusan Allah."
Dialah Professor Keith L. Moore



















